Sabtu, 13 Desember 2014

RECOMMENDED PLACE : SURABI IMUT

Sebagai seorang siswa yang sudah merantau di Malang sejak 2 tahun yang lalu, saya mungkin terkategorikan sebagai orang yang jarang nongkrong di cafe atau tempat makan lain jika dibandingkan dengan teman-teman saya. Kalau teman-teman saya suka pergi ke cafe ketika awal bulan, maka tidak begitu dengan saya. Saya lebih suka berhemat di awal bulan dan hidup cukup di akhir bulan ketimbang jajan banyak di awal bulan dan harus benar-benar mengirit di akhir bulan. Jadi, kalau ada yang mau ke cafe atau tempat makan sejenis bolehlah ngajak saya, kali aja saya pas lagi ada rezeki terus bisa ikutan deh. Hehehe.

Well, saya sekarang sudah kelas 3 dan saya baru sekali ini ke surabi imut.

Ya ampun! Kemana aja lo selama ini, hah?!

Kaget ya? Wajar kok.

Dari awal kelas 1, saya sudah sering denger dari mas mbak kakak kelas dan teman-teman saya tentang tempat ini. Saya sendiri sudah pengin kesana sedari dulu, tapi nggak jadi terus, alasannya sih karena sibuk ngerjakan segala macam tugas sekolah yang nggak pernah bisa diajak santai.

Tapi akhirnya, hari kamis tanggal 11 kemarin saya kesana sama temen saya.

Photo taken from : here

Awalnya, saya sama temen saya, Nadhia, baru pulang dari kantor dan kami sudah sepakat mau ke islamic book fair yang ada di skodam. Rencananya setelah dari sana kami langsung pulang, tapi belum selesai kami di islamic book fair, adzan maghrib sudah terdengar aja. Kami cepet-cepet keluar terus nyari masjid/mushola buat sholat.

Setelah mencari dan bertanya kepada bapak-bapak di pinggir jalan, akhirnya kami menemukan masjid, letaknya terpencil di antara pemukiman rumah warga. Cukup jauh sih, dari skodam jalan sampe ke klojen dan baru menemukan di dekat jalan raya arah ke rampal. Dan entah kenapa saya tiba-tiba kepikiran buat ngajak nadhia ke surabi imut. Dia mau, dan fix! Kami kesana malam itu.

Nadhia sendiri sudah pernah ke tempat ini sebelumnya, jadi dia lebih tau gimana makanan dan tempatnya. Nggak susah kok kalau mau nyari tempat ini, karena letaknya yang dipinggir jalan raya dan nggak kecil-kecil amat. Ada beberapa tungku yang buat bikin surabinya tertata rapi di bagian depan. Saya dan nadhia memutuskan untuk makan di lantai atas karena ada banyak hal yang mau kami diskusikan.

Saya pesen surabi telur+sosis (5000) sama pisang bakar+keju+susu coklat (4500), sedangkan nadhia pesen surabi daging+mayo+keju (7000) dan pisang bakar+keju+susu coklat (4500). Kami memang sengaja nggak pesen minum, karena saat itu cuaca lagi dingin banget dan habis hujan juga, jadi sepertinya say no to ice. Kami memilih untuk minum air putih yang memang kami bawa sendiri.

Surabi telur+sosis yang saya pesan. Rasanya gurih dan bikin kenyang.

Pisang bakar keju+susu coklat. Enak!  

Saya sama sekali nggak nyangka kalau surabinya bener-bener bikin kenyang. Meskipun namanya surabi imut, tapi surabi yang saya pesan ukurannya cukup besar. Mungkin mbak masnya tau kalau saya lagi laper, terus dikasih porsi jumbo kali ya, hahaha. Oh ya, pisang bakarnya juga enak banget. FYI, saya bukan orang yang doyan sama keju. Doyan aja enggak, gimana mau makan coba. Itu saya lagi sengaja nantangin diri saya sendiri buat makan keju. But, kejunya nggak kerasa sih, kalah sama rasa coklat dari susu coklat sama mesisnya. Nah, itu pisang bakarnya cocok banget buat orang yang nggak suka keju seperti saya, hehe.

Sebenarnya kami agak sungkan juga pesen banyak kayak gitu, karena mbak-mbak pengunjung lain pesennya 1 porsi per orang. Ditambah lagi ada cowok-cowok kuliahan sok kece yang juga masing-masing pesen 1 porsi. Tapi karena kami sudah lapar, yasudah. Kami berusaha cuek aja, meskipun sejauh mata memandang pengunjung disitu pesennya 1 porsi untuk setiap orang.

Kami berada disana sampai jam setengah sembilan. Diskusi banyak hal, dari mulai curhat masalah hati sampai kepada jodoh, agama, masa depan, buku dan film. Tempatnya enak buat ngumpul sama temen, buat pacaran juga, nadhia sempet nulis beberapa postcard dan saya bikin beberapa draft must-to-do saya. Ya meskipun agak terganggu dengan suara obrolan dari pengunjung lain, tapi tetep nyaman kok. Apalagi kalau dapet tempat yang pojok yang menghadap ke jalan, terus makan surabinya bareng sama pacar. Tsaaah, kalo jomblo ya jomblo aja! Hahaha.

Oh ya, dulu saya pernah baca postingannya kakak kelas saya (mbak leli) tentang surabi imut juga disini. Lantai atasnya sudah nggak kayak yang difotonya mbak leli sekarang. Sudah bersih dan nggak bisa dicoret-coret lagi, haha.

Kalau yang lagi di malang, monggo dicoba. Menunya enak, harganya juga nggak mahal, kisaran 2500-7500. Meskipun namanya surabi imut, tapi nggak imut-imut amat kok, jadi tetep bisa makan enak, kenyang dan nggak berat. Tempat ini memang selalu kelihatan rame, karena memang sesuai dengan kantong dan selera anak kos seperti saya. Buat yang mau kesana, lokasinya ada di Jl. Trunojoyo 26 Malang. Benar-benar recommended dan pastinya kamu nggak bakal nyesel pernah kesana!